Judul postingan kali ini terinspirasi dari film (500) days of summer dan tidak dari kehidupan nyata. Buat yang udah nonton filmnya, di bagian akhir ada tokoh Tom Hansen yang bertemu dengan tokoh bernama Autumn
*sayangnya saya nggak bisa masukin scene pas Tom Hansen ketemu Autumn* :’(
Anyway, pokoknya hari di mana Tom Hansen ketemu si Autum itu jadi titik balik Tom Hansen buat ngelupain si mantan pacar tidak serius tapi diseriusin di hati yang bernama Summer. Nah, kalau kebersamaan Tom Hansen dan Summer Fin bisa dimaukin tuh gambarnya
Buat yang sudah baca sampai sini, perlu saya ingatkan bahwa postingan ini bukan review dari film (500) Days of Summer. Tujuan dari postingan ini adalah mengambil hikmah dari film tersebut. Di film itu, meskipun Tom Hansen nangis darah (sori rada hiperbole
) dan sampai mecah – mecahin piring segala ( yang ini serius. Sayang banget ya piring – piringnya ) .
But in the end of the movie, Tom can forget about Summer – who has married – from his heart. Tanpa Summer, Tom bisa mewujudkan keinginannya untuk merintis karier sebagai arsitek. It means that Tom bisa lebih konsentrasi ke kariernya. Dan Tom benar – benar bisa melupakan Summer dari hati ( kalau pikiran sih nggak bisa, ya kecuali dia kena amnesia ) ketika bertemu dengan sosok Autumn yang nggak kalah cantik
Intinya, dalam kehidupan nyata kita mesti sadar bahwa life must go on although we feel desperate for a moment. When you lost your Summer, don’t worry coz you’ll meet your Autumn. Kalau nggak ada Autumn, kan juga masih ada Winter sama Spring. Ketika kehilangan ‘Summer’ bolehlah kita nangis – nangis dan menye – menye. Tapi jangan terus – terusan. Open your eyes, your heart, and your mind for ‘Autumn’
quote favorit saya di film (500) days of summer :

“People should be able to say how they feel – how they really feel – not, you know some words that some strangers put in their mouths – Tom Hansen”





Tinggalkan komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini